Senin, 04 Januari 2016

cinta sebatas patok tenda eps. 1



   CINTA SEBATAS PATOK TENDA eps.1

 Aku harus berlari, berlari mengejar waktu yang terus mendesakku. Kenapa kali ini waktu terasa begitu memburu.tak bisakah ia menunggu??. Lariku semakin memelan, padahal telah kupaksa sekuat tenaga. My bag is so heavy. Aku tak tau apa yang membuatnya terasa sangat berat dipungguku.aku sudah merencanakan dari seminggu yang lalu untuk membawa perlengkapan seminim mungkin agar tak menyiksaku kala berjalan.coba kuingat-ingat lagi apa saja yang kubawa.seingatku, aku hanya membawa satu set tenda bivak lengkap dengan pin besi sebagai pematok,biar kujelaskan, (bivak adalah semacam tenda yang berukuran kecil,tidak, maksudku amat kecil, hanya muat ditempati satu orang, dan tingginya tidak lebih dari satu meter, biasanya terbuat dari mantel. Bivak adalah tenda darurat yang digunakan saat kemah berjalan atau camp safari), selanjutnya aku membawa sepasang baju ganti dan jaket, Golok, senter, dua buah kaleng susu,5 kotak korek api, 4 susu sashet, dua botol air mineral, dan sebungkus nasi.oh,ternyata banyak juga, walaupun semua itu hanyalah benda-benda ringan , tapi kalau disatukan maka akan berat juga.
          Peluhku mulai bercucuran padahal semua belum dimulai. Aku tau ini sudah sangat terlambat tapi tak ada salahnya aku berusaha. Akhirnya, karena aku terus memaksakan untuk lari, aku harus tersandung batu dan jatuh telungkup hampir mencium aspal. sial ! aku mengumpat.siapakah orang gila yang sudah melempar batu ditengah jalan aspal??, itu lah misteri yang sampai kini tak bisa kupecahkan. Aku berusaha bangkit , saat kulihat sebuah tangan terulur tepat di depan hidungku, ku dongakkan kepalaku lebih keatas, dan tampak lah sesosok ciptaan Tuhan yang sangat mempesona.Mata nya tajam, tapi lembut meneduhkan, bibir tertarik membentuk sebuah senyuman yang menular. Rambutnya lurus mengikuti lengkungan tengkuknya,poni terbingkai didahinya nyaris menutupi mata kanannya.setelan seragam pramuka lengkap menyempurnakan penampilannya, dan membuatnya tampak gagah.tanpa berkata apapun aku menyambut uluran tangannya.darah ku berdesir lembut saat jemari kami bersentuhan .ku coba bangkit sekuat tenaga dengan sedikit bergelantungan di lengannya yang kekar.
          Setelah berhasil berdiri,ku ucapkan terimakasih dengan setulus hati yang dibalas dengan senyumannya yang menentramkan.tak dapat kupungkiri semakin dipandang sosoknya semakin mempesona.
          “apa kau salah satu peserta camp safari??” tanya nya.
          Dan aku mengangguk dengan sedikit malu-malu. Yaps,  sekarang aku akan mengikuti camp safari, aku belum pernah mengikuti kemah semacam ini sebelumnya, dan sekarang aku amat sangat bersemangat untuk mengikutinya. Camp safari adalah kemah berjalan, jadi berdasarkan keterangan yang diberikan kak jean, malam ini kami akan berjalan sejauh 60 km selama kurang lebih 24 jam tanpa henti. Baiklah, ini sedikit keterlaluan, maksudku kami hanya akan mendapat sedikit kesempatan untuk istirahat. Apalagi ini adalah perjalanan sepanjang malam. Mungkin kami akan melewati hutan, gunung , lembah, sungai dan semacamnya. Aaaah aku jadi tidak sabar.
          “kalau begitu kita harus bergegas, mereka pasti sudah mulai berjalan..”katanya membuyarkan lamunanku. tanpa peringatan terlebih dahulu ia menangkap tanganku dan membawaku kabur.membuatku terhuyung-huyung dibelakangnya. ehm, kayak difilm-film action gituuhh. Hihihi.... kepanikanku sedikit berkurang sekarang, berasa dibawa lari oleh seorang pangeran untuk menyeberangi lautan. Aku membiarkan pikiran norak itu berputar-putar dikepalaku.
          Tinggal beberapa meter lagi kami hampir sampai di sebuah gedung yang dulunya kantor DPR yang biasanya menjadi markas atau tempat latihan. Dari kejauhan tampak olehku sesosok lelaki setengah baya yang penuh wibawa (kak jean) melambaikan tangan kearah kami mengisyaratkan agar langkah kami semakin dipercepat, dan itu menyadarkan ku bahwa aku masih mempunyai harapan untuk berpetualang melihat dunia luar disepanjang malam ini, tentunya..... gak sendirian, banyak teman yang menemaniku,walaupun aku belum mengenal mereka, karena ini adalah kemah gabungan dari beberapa sekolah ataupun organisasi pramuka diluar sekolah, dan aku satu-satunya perwakilan dari anggota pramukaku yang ikut camp ini, karena ini hari libur kebanyakan dari mereka pulang kampung, ataupun liburan bersama keluarga. jujur saja keluargaku juga sedang liburan keluar kota saat ini, dan aku satu-satunya yang tidak ikut. bukan masalah bagiku, karena kemah ini lebih penting dari apapun, aku tidak begitu yakin akan mengalaminya lagi lain kali, jadi akan kuusahakan sebaik mungkin. apalagi sekarang aku menemukan sosok baru yang langsung kukagumi saat pandangan pertama dan sekarang sedang memegang tanganku.
          Kami sampai di hadapan kak jean. “kalian terlambat” kata kak jean dengan suara beratnya tapi tetap tenang.
          “maafkan kami kak” kataku dengan napas ngos-ngosan.
          “maaf kan kami kak” sahut anak lelaki itu menimpali.
          “ regu terakhir belum terlalu jauh, mungkin sekitar 30 meter dari sini. Susullah mereka”
           “siap kak!” sahut kami berdua serentak, sambil memberi hormat. Kami serentak belok kanan kemudian saling berpandangan dan lari lagi. Tapi kali ini dia tidak menggandeng tangan ku lagi, dan dia berlari jauh di depanku, aku harus berlari menyusulnya dengan kaki-kaki pendekku, dan ini begitu melelahkan.
          “ hei! Tunggu aku!” teriakku dibelakangnya “kenapa kau berlari begitu kencang! Tak ada hantu yang mengejarmu! Bisakah lebih pelan sedikit?!!” aku terus berkoar-koar dibelakangnya, dan dia akhirnya berhenti dan memegang lututnya sejenak. Dia memutar badannya dan melihatku yang sedang berlari menyusulnya dengan amat sangat kepayahan.
          “ kenapa kau lamban sekali. Kita akan kehilangan jejak mereka jika tak segera menyusul” aku bertanya-tanya bagaimana suaranya bisa selembut dan setenang itu saat dia sendiri juga ngos-ngosan sama sepertiku.
          “ baik lah, ayo susul mereka, aku akan lebih kencang lagi.” Aku berlari didepannya sekarang berusaha tak tertinggal dibelakang lagi, tapi tak butuh waktu lama, sekarang dia sedang berlari disampingku, tidak, sekarang dia didepanku, lebih jauh didepanku, akh! Aku tertinggal lagi. Aku mengumpat diriku sendiri, hey bagaimana bisa kau begitu lamban.
          Aku tidak sanggup menyusulnya, begitu melelahkan. Tapi tunggu, dia berbalik! Berlari kearahku, menangkap tanganku, dan akupun harus terhuyung-huyung dibelakangnya. Tapi tak apa, ini jauh lebih menyenangkan dari pada harus  terus mengejarnya.
          “bagaimana kau bisa begitu lamban” gumamnya sambil terus berlari dan memegang tanganku di belakangnya. Walaupun kulit kami tak langsung bersentuhan karena kami memakai sarung tangan, aku tetap merasakan darahku berdesir saat dia menarik tanganku. Ini benar-benar menyenangkan!.
          Akhirnya kami menemukan mereka, regu terakhir, aku tidak yakin kami urutan keberapa, ke 8 atau 9. Yang pasti kami urutan terakhir, dan aku juga tak begitu peduli, yang penting aku menemukan reguku sekarang. Aku melihat mereka berjalan berbaris, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.tak satupun yang kukenal. kami mengikuti dibelakangnya.
          “ hay” kataku menyapa sambil terus berjalan.” Kak jean menyuruh kami bergabung dengan kalian”
           Anak perempuan dua baris didepanku berpaling melihatku “ oh, kau anggota baru?” katanya antusias dengan mata membelalak senang “ ah, syukurlah, aku mendapat teman sejenis” katanya. Sekarang dia bertukar barisan dengan anak laki-laki yang dihadapanku. “ siapa namamu? Aku dinda” katanya sambil terus berjalan didepanku.
          “ aku marsha,”kataku dibelakangnya.
          “dan kakak? Siapa nama kakak” dinda melirik anak laki-laki dibelakangku.
          “ daril” sahutnya tenang tapi tetap terdengar ramah.
          “ daril???!” tiba-tiba dinda menghentikan langkahnya dan aku yang tidak menyadarinya terus berjalan dan menabrak punggugnya dan daril menabrak punggungku, jadilah ini tabrakan beruntun. Dalangnya pastilah orang dibarisan terdepan.
          “momo! Kenapa kau berhenti!” teriak dinda memarahi momo.
          “ iih dinda, momo juga kaget, angga tiba-tiba berhenti” sahut momo dengan gaya kemayunya. Walaupun aku sudah sering mendengar yang namanya banci, tapi aku tak pernah berhadapan langsung dengan mereka, dan ini membuatku sedikit shock.ternyata mereka lebih aneh dan menakutkan dari yang aku bayangkan. Aku yakin saat ini aku sedang membelalakkan mataku dengan wajah ilfeel ke arah momo. Karena momo dengan sinis berkata padaku,
          “ kenapa melihatku begitu? Belum pernah liat cowok yang lebih cantik darimu ya?”
          Aku mengernyitkan dahiku, dan berusaha sekuat mungkin agar tak terbahak dihadapannya.
          “awwh!” dinda menjitak momo dengan geram
          “ tak bisakah kau bersikap lebih sopan pada anggota baru kita?” omel dinda pada momo. Sekarang dinda berbalik kearahku, “ maafkan momo ya, terkadang dia menjadi kasar saat datang bulan.”
          “ apa!?” aku terlonjak kaget saat mengetahui seorang banci ternyata bisa datang bulan.
          “ daril!!” tiba-tiba angga sang pemimpin regu keluar dari barisannya dan menghampiri daril.
          Daril dan angga sama-sama terlihat kaget untuk beberapa saat dan kemudian saling merangkul. 
          “ bagaimana kau bisa ada disini?” kata angga tak percaya
          “ ada beberapa hal yang harus ku urus” sahut daril.” Kau tahu, aku benar-benar kaget saat tahu kau adalah pemimpin regu. Bagaimana mungkin pangkatmu lebih tinggi dari ku sekarang.bukankah aku yang lebih tua? Bagaimana jika kita bertukar posisi?” aku tau daril tak mengatakannya dengan serius karena wajahnya sedang mengajak angga bercanda sekarang.
          Angga melepaskan rangkulannya sekarang dan wajahnya membuat mimik marah yang terlalu dibuat-buat, “ beraninya kau berkata begitu dengan pemimpinmu!”kata angga dengan nada keras yang dibuat-buat “ karena kelancangan mu itu, ah dan satu lagi kau terlambat! Jadi kau akan dihukum”
          “ oh ya? Aku tak sendiri. Aku bersama seorang teman yang juga terlambat.”
          Angga melirikku sekarang. aku tersenyum sungkan kepadanya.
          “ maafkan aku.aku sudah berusaha agar tak terlambat, tapi...”
          “aaah” angga memutuskan omonganku “ bukan masalah, manusia selalu berbuat hilaf setiap waktu. Dan itu hal yang wajar”
          “ bagaimana mungkin kau menghukumku tapi tidak meghukumnya? Padahal kami samasama terlambat?” daril protes sekarang.
          “aaahhhh, mau berapa lama lagi kalian buang-buang waktu disini? Regu yang lainnya mungkin sudah hampir sampai, sementara kami harus terjebak disini menyaksikan perdebatan kalian yang sama sekali tak penting itu, kalian tahu...mmmpp”
          Angga menutup mulut dinda yang sedang mengomel.dan berkata padaku “ dia akan terus mengoceh sampai kita benar-benar melanjutkan perjalanan.”
          Aku mengangguk dan mengernyitan dahiku sambil memaksakan sebuah senyuman. Dan sekarang wajah angga tiba-tiba berubah tegas.
          “ semua! Kembali kebarisan!” bentaknya kepada kami semua. Dan itu membuatku sedkit kaget, bahkan momo sampai tersentak. Tapi dia masih menutup mulut dinda dengan tangannya. Sekarag dia lebih kelihatan seperti seorang perampok yang sedang menyandera seorang korban dari pada pemimpin regu.
          Saat dia sadar semua memperhatikannya, dia segera melepaskan dinda.
          “ awas saja, akan ku adukan pada ibu” ancam dinda pada angga.
          “ apa mereka saudara kandung?” aku pikir aku berkata dalam hati, tapi ternyata kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.aku menyadarinya saat daril menyahut perkataanku.
          “mereka tak pernah berubah.seingat ku mereka masih saudara kandung saat terakhir kali aku melihatnya,” kata daril yang berdiri dibarisan dibelakangku.
          “ aku tak bertanya padamu”
          “kakak” katanya
          “panggil aku kakak” katanya sangat amat tenang “ dipramuka baik itu laki-laki atau perempuan, menteri atau presiden sekalipun, jika dia lebih tua darimu, maka panggil dia kakak” dia menceramahiku sekarang. aku begitu nyaman mendengarkan nada suaranya yang begitu meneduhkan sehingga aku tak berfikir untuk marah ataupun menyahut kata-katanya. Jadi aku hanya mengangguk dan berkata
          “ baiklah......kak daril”
          “ siaaaapp... grak!!” suara lantang angga tiba-tiba mengagetkanku. Dan tubuhku otomatis membentuk sikap berdiri dalam posisi siap. “ maju... jalan!”  kami pun melanjutkan perjalanan.
          __to be continue....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar