CINTA SEBATAS PATOK TENDA eps.1
Aku harus berlari, berlari mengejar waktu yang
terus mendesakku. Kenapa kali ini waktu terasa begitu memburu.tak bisakah ia
menunggu??. Lariku semakin memelan, padahal telah kupaksa sekuat tenaga. My bag
is so heavy. Aku tak tau apa yang membuatnya terasa sangat berat dipungguku.aku
sudah merencanakan dari seminggu yang lalu untuk membawa perlengkapan seminim
mungkin agar tak menyiksaku kala berjalan.coba kuingat-ingat lagi apa saja yang
kubawa.seingatku, aku hanya membawa satu set tenda bivak lengkap dengan pin
besi sebagai pematok,biar kujelaskan, (bivak adalah semacam tenda yang
berukuran kecil,tidak, maksudku amat kecil, hanya muat ditempati satu orang,
dan tingginya tidak lebih dari satu meter, biasanya terbuat dari mantel. Bivak
adalah tenda darurat yang digunakan saat kemah berjalan atau camp safari),
selanjutnya aku membawa sepasang baju ganti dan jaket, Golok, senter, dua buah
kaleng susu,5 kotak korek api, 4 susu sashet, dua botol air mineral, dan
sebungkus nasi.oh,ternyata banyak juga, walaupun semua itu hanyalah benda-benda
ringan , tapi kalau disatukan maka akan berat juga.
Peluhku mulai bercucuran padahal semua belum dimulai. Aku
tau ini sudah sangat terlambat tapi tak ada salahnya aku berusaha. Akhirnya,
karena aku terus memaksakan untuk lari, aku harus tersandung batu dan jatuh
telungkup hampir mencium aspal. sial ! aku mengumpat.siapakah orang gila yang
sudah melempar batu ditengah jalan aspal??, itu lah misteri yang sampai kini
tak bisa kupecahkan. Aku berusaha bangkit , saat kulihat sebuah tangan terulur
tepat di depan hidungku, ku dongakkan kepalaku lebih keatas, dan tampak lah sesosok
ciptaan Tuhan yang sangat mempesona.Mata nya tajam, tapi lembut meneduhkan,
bibir tertarik membentuk sebuah senyuman yang menular. Rambutnya lurus mengikuti
lengkungan tengkuknya,poni terbingkai didahinya nyaris menutupi mata kanannya.setelan
seragam pramuka lengkap menyempurnakan penampilannya, dan membuatnya tampak
gagah.tanpa berkata apapun aku menyambut uluran tangannya.darah ku berdesir
lembut saat jemari kami bersentuhan .ku coba bangkit sekuat tenaga dengan
sedikit bergelantungan di lengannya yang kekar.
Setelah berhasil berdiri,ku ucapkan terimakasih dengan
setulus hati yang dibalas dengan senyumannya yang menentramkan.tak dapat
kupungkiri semakin dipandang sosoknya semakin mempesona.
“apa kau salah satu peserta camp safari??” tanya nya.
Dan aku mengangguk dengan sedikit malu-malu. Yaps, sekarang aku akan mengikuti camp safari, aku
belum pernah mengikuti kemah semacam ini sebelumnya, dan sekarang aku amat
sangat bersemangat untuk mengikutinya. Camp safari adalah kemah berjalan, jadi
berdasarkan keterangan yang diberikan kak jean, malam ini kami akan berjalan sejauh
60 km selama kurang lebih 24 jam tanpa henti. Baiklah, ini sedikit keterlaluan,
maksudku kami hanya akan mendapat sedikit kesempatan untuk istirahat. Apalagi
ini adalah perjalanan sepanjang malam. Mungkin kami akan melewati hutan, gunung
, lembah, sungai dan semacamnya. Aaaah aku jadi tidak sabar.
“kalau begitu kita harus bergegas, mereka pasti sudah mulai
berjalan..”katanya membuyarkan lamunanku. tanpa peringatan terlebih dahulu ia
menangkap tanganku dan membawaku kabur.membuatku terhuyung-huyung
dibelakangnya. ehm, kayak difilm-film action gituuhh. Hihihi.... kepanikanku
sedikit berkurang sekarang, berasa dibawa lari oleh seorang pangeran untuk
menyeberangi lautan. Aku membiarkan pikiran norak itu berputar-putar
dikepalaku.
Tinggal beberapa meter lagi kami hampir sampai di sebuah
gedung yang dulunya kantor DPR yang biasanya menjadi markas atau tempat
latihan. Dari kejauhan tampak olehku sesosok lelaki setengah baya yang penuh
wibawa (kak jean) melambaikan tangan kearah kami mengisyaratkan agar langkah
kami semakin dipercepat, dan itu menyadarkan ku bahwa aku masih mempunyai
harapan untuk berpetualang melihat dunia luar disepanjang malam ini,
tentunya..... gak sendirian, banyak teman yang menemaniku,walaupun aku belum mengenal mereka, karena ini adalah kemah gabungan dari beberapa sekolah ataupun organisasi pramuka diluar sekolah, dan aku satu-satunya perwakilan dari anggota pramukaku yang ikut camp ini, karena ini hari libur kebanyakan dari mereka pulang kampung, ataupun liburan bersama keluarga. jujur saja keluargaku juga sedang liburan keluar kota saat ini, dan aku satu-satunya yang tidak ikut. bukan masalah bagiku, karena kemah ini lebih penting dari apapun, aku tidak begitu yakin akan mengalaminya lagi lain kali, jadi akan kuusahakan sebaik mungkin. apalagi sekarang aku
menemukan sosok baru yang langsung kukagumi saat pandangan pertama dan sekarang
sedang memegang tanganku.
Kami sampai di hadapan kak jean. “kalian terlambat” kata
kak jean dengan suara beratnya tapi tetap tenang.
“maafkan kami kak” kataku dengan napas ngos-ngosan.
“maaf kan kami kak” sahut anak lelaki itu menimpali.
“ regu terakhir belum terlalu jauh, mungkin sekitar 30
meter dari sini. Susullah mereka”
“siap kak!” sahut
kami berdua serentak, sambil memberi hormat. Kami serentak belok kanan kemudian
saling berpandangan dan lari lagi. Tapi kali ini dia tidak menggandeng tangan
ku lagi, dan dia berlari jauh di depanku, aku harus berlari menyusulnya dengan
kaki-kaki pendekku, dan ini begitu melelahkan.
“ hei! Tunggu aku!” teriakku dibelakangnya “kenapa kau
berlari begitu kencang! Tak ada hantu yang mengejarmu! Bisakah lebih pelan
sedikit?!!” aku terus berkoar-koar dibelakangnya, dan dia akhirnya berhenti dan
memegang lututnya sejenak. Dia memutar badannya dan melihatku yang sedang
berlari menyusulnya dengan amat sangat kepayahan.
“ kenapa kau lamban sekali. Kita akan kehilangan jejak
mereka jika tak segera menyusul” aku bertanya-tanya bagaimana suaranya bisa
selembut dan setenang itu saat dia sendiri juga ngos-ngosan sama sepertiku.
“ baik lah, ayo susul mereka, aku akan lebih kencang lagi.”
Aku berlari didepannya sekarang berusaha tak tertinggal dibelakang lagi, tapi
tak butuh waktu lama, sekarang dia sedang berlari disampingku, tidak, sekarang
dia didepanku, lebih jauh didepanku, akh! Aku tertinggal lagi. Aku mengumpat
diriku sendiri, hey bagaimana bisa kau begitu lamban.
Aku tidak sanggup menyusulnya, begitu melelahkan. Tapi
tunggu, dia berbalik! Berlari kearahku, menangkap tanganku, dan akupun harus
terhuyung-huyung dibelakangnya. Tapi tak apa, ini jauh lebih menyenangkan dari
pada harus terus mengejarnya.
“bagaimana kau bisa begitu lamban” gumamnya sambil terus
berlari dan memegang tanganku di belakangnya. Walaupun kulit kami tak langsung
bersentuhan karena kami memakai sarung tangan, aku tetap merasakan darahku
berdesir saat dia menarik tanganku. Ini benar-benar menyenangkan!.
Akhirnya kami menemukan mereka, regu terakhir, aku tidak
yakin kami urutan keberapa, ke 8 atau 9. Yang pasti kami urutan terakhir, dan
aku juga tak begitu peduli, yang penting aku menemukan reguku sekarang. Aku
melihat mereka berjalan berbaris, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.tak satupun
yang kukenal. kami mengikuti dibelakangnya.
“ hay” kataku menyapa sambil terus berjalan.” Kak jean
menyuruh kami bergabung dengan kalian”
Anak perempuan dua
baris didepanku berpaling melihatku “ oh, kau anggota baru?” katanya antusias
dengan mata membelalak senang “ ah, syukurlah, aku mendapat teman sejenis”
katanya. Sekarang dia bertukar barisan dengan anak laki-laki yang dihadapanku.
“ siapa namamu? Aku dinda” katanya sambil terus berjalan didepanku.
“ aku marsha,”kataku dibelakangnya.
“dan kakak? Siapa nama kakak” dinda melirik anak laki-laki
dibelakangku.
“ daril” sahutnya tenang tapi tetap terdengar ramah.
“ daril???!” tiba-tiba dinda menghentikan langkahnya dan
aku yang tidak menyadarinya terus berjalan dan menabrak punggugnya dan daril menabrak
punggungku, jadilah ini tabrakan beruntun. Dalangnya pastilah orang dibarisan
terdepan.
“momo! Kenapa kau berhenti!” teriak dinda memarahi momo.
“ iih dinda, momo juga kaget, angga tiba-tiba berhenti”
sahut momo dengan gaya kemayunya. Walaupun aku sudah sering mendengar yang
namanya banci, tapi aku tak pernah berhadapan langsung dengan mereka, dan ini
membuatku sedikit shock.ternyata mereka lebih aneh dan menakutkan dari yang aku
bayangkan. Aku yakin saat ini aku sedang membelalakkan mataku dengan wajah
ilfeel ke arah momo. Karena momo dengan sinis berkata padaku,
“ kenapa melihatku begitu? Belum pernah liat cowok yang
lebih cantik darimu ya?”
Aku mengernyitkan dahiku, dan berusaha sekuat mungkin agar
tak terbahak dihadapannya.
“awwh!” dinda menjitak momo dengan geram
“ tak bisakah kau bersikap lebih sopan pada anggota baru
kita?” omel dinda pada momo. Sekarang dinda berbalik kearahku, “ maafkan momo
ya, terkadang dia menjadi kasar saat datang bulan.”
“ apa!?” aku terlonjak kaget saat mengetahui seorang banci
ternyata bisa datang bulan.
“ daril!!” tiba-tiba angga sang pemimpin regu keluar dari
barisannya dan menghampiri daril.
Daril dan angga sama-sama terlihat kaget untuk beberapa
saat dan kemudian saling merangkul.
“ bagaimana kau bisa ada disini?” kata angga tak percaya
“ ada beberapa hal yang harus ku urus” sahut daril.” Kau
tahu, aku benar-benar kaget saat tahu kau adalah pemimpin regu. Bagaimana
mungkin pangkatmu lebih tinggi dari ku sekarang.bukankah aku yang lebih tua?
Bagaimana jika kita bertukar posisi?” aku tau daril tak mengatakannya dengan
serius karena wajahnya sedang mengajak angga bercanda sekarang.
Angga melepaskan rangkulannya sekarang dan wajahnya membuat
mimik marah yang terlalu dibuat-buat, “ beraninya kau berkata begitu dengan
pemimpinmu!”kata angga dengan nada keras yang dibuat-buat “ karena kelancangan
mu itu, ah dan satu lagi kau terlambat! Jadi kau akan dihukum”
“ oh ya? Aku tak sendiri. Aku bersama seorang teman yang
juga terlambat.”
Angga melirikku sekarang. aku tersenyum sungkan kepadanya.
“ maafkan aku.aku sudah berusaha agar tak terlambat,
tapi...”
“aaah” angga memutuskan omonganku “ bukan masalah, manusia
selalu berbuat hilaf setiap waktu. Dan itu hal yang wajar”
“ bagaimana mungkin kau menghukumku tapi tidak meghukumnya?
Padahal kami samasama terlambat?” daril protes sekarang.
“aaahhhh, mau berapa lama lagi kalian buang-buang waktu
disini? Regu yang lainnya mungkin sudah hampir sampai, sementara kami harus
terjebak disini menyaksikan perdebatan kalian yang sama sekali tak penting itu,
kalian tahu...mmmpp”
Angga menutup mulut dinda yang sedang mengomel.dan berkata
padaku “ dia akan terus mengoceh sampai kita benar-benar melanjutkan perjalanan.”
Aku mengangguk dan mengernyitan dahiku sambil memaksakan
sebuah senyuman. Dan sekarang wajah angga tiba-tiba berubah tegas.
“ semua! Kembali kebarisan!” bentaknya kepada kami semua.
Dan itu membuatku sedkit kaget, bahkan momo sampai tersentak. Tapi dia masih
menutup mulut dinda dengan tangannya. Sekarag dia lebih kelihatan seperti
seorang perampok yang sedang menyandera seorang korban dari pada pemimpin regu.
Saat dia sadar semua memperhatikannya, dia segera
melepaskan dinda.
“ awas saja, akan ku adukan pada ibu” ancam dinda pada
angga.
“ apa mereka saudara kandung?” aku pikir aku berkata dalam
hati, tapi ternyata kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.aku
menyadarinya saat daril menyahut perkataanku.
“mereka tak pernah berubah.seingat ku mereka masih saudara
kandung saat terakhir kali aku melihatnya,” kata daril yang berdiri dibarisan
dibelakangku.
“ aku tak bertanya padamu”
“kakak” katanya
“panggil aku kakak” katanya sangat amat tenang “ dipramuka
baik itu laki-laki atau perempuan, menteri atau presiden sekalipun, jika dia
lebih tua darimu, maka panggil dia kakak” dia menceramahiku sekarang. aku
begitu nyaman mendengarkan nada suaranya yang begitu meneduhkan sehingga aku
tak berfikir untuk marah ataupun menyahut kata-katanya. Jadi aku hanya
mengangguk dan berkata
“ baiklah......kak daril”
“ siaaaapp... grak!!” suara lantang angga tiba-tiba
mengagetkanku. Dan tubuhku otomatis membentuk sikap berdiri dalam posisi siap.
“ maju... jalan!” kami pun melanjutkan
perjalanan.
__to be continue....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar